Sejarah Singkat

Perjuangan pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pemerintah Belanda terhadap Indonesia. Pemerintah Kolonial Belanda memperkenalkan sekolah-sekolah modern menurut sistem persekolahan yang berkembang di dunia Barat ternyata juga berpengaruh terhadap lembaga pendidikan Indonesia yang tertua yakni Pesantren. Maka lembaga pendidikan di Indonesia terdikotomi menjadi dua, yakni: pertama pendidikan yang diberikan oleh sekolah Barat sekuler yang tidak mengenal ajaran agama, dan yang kedua adalah pendidikan yang diberikan oleh pondok pesantren yang hanya mengenal agama saja.

Dengan terdikotominya dunia pendidikan saat itu, tentu tidak akan membawa maslahat apa-apa bagi perkembangan masyarakat Indonesia lebih-lebih masa akan datang, bahkan akan merugikan masyarakat muslim sendiri. Di satu sisi dipandang perlu mengetahui perkembangan dunia luar teknologi, di sisi lain juga diperlukan adanya pemahaman keagamaan yang menjadi pedoman dalam berkehidupan sehari-hari, mengingat rasa keagamaan bangsa Indonesia sungguh menggelora meskipun secara fisik mereka tertindas oleh imperalisme Belanda.

Masyarakat umum dari kalangan ekonomi bawah merasa terbuka memasuki pesantren. Namun bagi kalangan ekonomi atas lebih berminat pada sekolah-sekolah Belanda yang dikelola secara modern. Lebih-lebih muncul stigma di pesantren hanya diajarkan materi-materi ukhrawi, sementara di sekolah Belanda diajarkan materi keterampilan duniawi, namun lagi-lagi hanya kalangan masyarakat tertentu saja yang dapat menikmatinya. Selebihnya rakyat Indonesia buta huruf tidak bisa baca tulis karena tidak bisa berkesempatan mengenyam pendidikan. Dalam kondisi seperti inilah yang diharapkan oleh pemerintah kolonial untuk membodohkan rakyat Indonesia agar terus melanggengkan imperialismenya.

Dalam kondisi seperti ini muncullah kesadaran dari ulama’-ulama’ yang pada saat itu merasakan bahwa perlu adanya gerakan untuk “melawan” tindak kolonialisme, lebih-lebih dalam masalah pendidikan Islam. Maka muncullah nama-nama seperti HOS Tjokroaminoto (melawan kolonialisme dengan politik), Kiai Dahlan Achyad, KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Chasbullah (melawan kolonialisme dengan kegiatan social keagamaan). Namun dari nama-nama tersebut tidak ada yang begitu serius untuk benar-benar berjuang di dunia pendidikan kecuali Kiai Dahlan Achyad.
Surabaya menjadi saksi perjuangan pendidikan Islam melalui kelompok diskusi keagamaan yang dinamakan Taswirul Afkar. Forum ini didirikan oleh KH. Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur, Kiai Dahlan Achyad dan Mangun. Taswirul Afkar adalah organisasi yang berdiri pada masa penjajahan, dan merupakan ide rakyat untuk membuat forum diskusi. Forum Taswirul Afkar didirikan dengan tujuan meraih kesepakan bersama dalam masalah sosial, pendidikan dan dakwah (namun lebih terkhusus pada pendidikan. Pen). Setelah itu berkembang menjadi sebuah lembaga yang mendidik rakyat tepatnya di Kebondalem, daerah Sunan Ampel Surabaya. Beberapa orang yang terlibat dalam pendirian Taswirul Afkar adalah orang-orang penting dari berbagai organisasi di Indonesia, antara lain KH. Wahab Chasbullah yang berperan dalam pendirian NU, KH. Mas Mansur tokoh termasyhur organisasi Muhammadiyah, dan Kiai Dahlan Achyad sebagai pendiri organisasi MIAI. Bahkan pada penghujung perjalanannya Taswirul Afkar disebut-sebut menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama’.

Forum diskusi Taswirul Afkar pada mulanya sederhana, bersifat terbatas untuk kalangan tertentu. Kemudian seiring perkembangan waktu, Taswirul Afkar mulai diminati oleh pemuda. Kondisi ini dimanfaatkan untuk membina kontak antara sejumlah tokoh muda dengan tokoh agama dan tokoh intelektual. Taswirul Afkar berusaha mencari berbagai solusi keagamaan dalam kehidupan sehari-hari hingga merambah pada pembahasan politik perjuangan untuk mengusir penjajah. Namun sesuai dengan namanya forum diskusi ini didirikan bukan untuk perjuangan dibidang politik melainkan dibidang pendidikan.

Artikel ini berusaha mengangkat tokoh sentral pendiri Taswirul Afkar yakni Kiai Dahlan Achyad. Bukan berarti menafikan tokoh-tokoh lain yang juga pendiri Taswirul Afkar. Melainkan keprihatinan penulis akan rekonstruksi tokoh ini (Kiai Dahlan Achyad) masih sangat minim. Sepanjang penelusuran kepustakaan yang penulis lakukan, hanya ada dua referensi yang fokus memperbincangkan ketokohan maupun pemikiran. Pertama berupa Skripsi yang berjudul “Peranan KH. Achmad Dahlan Achyad dalam Memperjuangkan Taswirul Afkar (1914 – 1942)” ditulis oleh Siti Khoiriah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2014. Kedua buku yang berjudul “Biografi Kiai Ahmad Dahlan Aktivis Pergerakan dan Pembela Ajaran Aswaja” ditulis oleh Wasid Mansur tahun 2015. Selebihnya dalam buku “The Founding Father of Nahdlatoel Oelama’ Rekam Biografi 23 Tokoh Pendiri NU” hanya menjadi bagian pelengkap dari 23 tokoh yang ditulis dalam buku tersebut.
Hingga begitu minim buku yang menulis tentang Kiai Dahlan Achyad, Choirul Anam meluruskan bahwa acapkali nama Kiai Dahlan Achyad menjadi kabur dengan nama Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Lebih-lebih dalam beberapa referensi ditemukan data yang tidak akurat, seperti MIAI didirikan oleh KH. Mas Mansur (Muhammadiyah), KH. A. Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH. A. Wahab Chasbullah (NU) dan W. Wondoamiseno (PSII). Padahal secara historis KH. A. Dahlan (pendiri Muhammadiyah) wafat tahun 1923, sedangkan MIAI berdiri tahun 1937. Secara logis tidak mungkin MIAI didirikan oleh tokoh yang sudah wafat selama 14 tahun. Oleh karena itu bagi Wasid, akademisi harus benar-benar sikap jeli terhadap tokoh yang memiliki kemiripan nama. Karena bila dibiarkan dapat berdampak pada kaburnya peran-peran strategis dari tokoh tersebut.
Selain karena minimnya kajian, dari sekian tokoh yang ada. Kiai Dahlan Achyad merupakan salah satu dari tokoh yang begitu berkomitmen untuk berjuang di dunia pendidikan. Terbukti hingga saat ini nama Taswirul Afkar tetap eksis bahkan menjadi yayasan yang bergerak di dunia pendidikan. Dengan direkonstruksiya ketokohan Kiai Dahlan Achyad diharapkan dunia akademis dapat membedakan peran-peran strategis dari tokoh yang memiliki kemiripan nama tersebut.

Riwayat Hidup Kiai Dahlan Achyad
KH. Ahmad Dahlan Ahyad lahir pada tanggal 30 Oktober 1885 M bertepatan dengan 13 Muharram 1303 H di Kebondalem Surabaya. Kebondalem adalah nama tempat yang terdapat di kawasan religi termasyhur di Surabaya yakni Ampel. Beragam etnik bercampur di kawasan ini yakni; Madura, Jawa, Arab, dan Cina dengan membawa varian budaya yang bermacam-macam. Hingga dengan familiarnya perbedaan yang kerap ditemui oleh Dahlan muda dapat mengantarkannya menjadi sosok ‘ulama’ yang moderat namun tetap berpegang teguh pada aqidah ahl sunnah wa al-Jama’ah.
Kiai Dahlan Achyad adalah putra keempat dari enam bersaudara dari pasangan KH. Muhammad Ahyad dan Nyai Hj. Mardliyah. Namanya mirip dengan KH. Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah yang berasal dari Yogyakarta. Untuk membedakan antara Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Ahmad Dahlan pendiri Taswirul Afkar (embrio NU) cukup dilihat dari nama akhirnya yaitu Achyad yang merupakan nama dari ayahnya. Lain halnya dengan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah yang semula memiliki nama Muhammad Darwis. Nama Ahmad Dahlan (dari Muhammad Darwis) terinspirasi dari nama seorang mufti Madzhad Syafi’I yang sangat termasyhur pada zamannya yakni Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan.
Nasab melalui ayahnya Kiai Ahyad merupakan keturunan ketujuh bersambung dengan Sayyid Sulaiman yang dimakamkan di Mojoagung Jombang. Dengan begitu, ayah Kiai Dahlan masih rintisan darah dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Karena Sayyid Sulaiman adalah putra dari Syaikh Abdul Rahman al-Syaibani, yang menikah dengan Nyai Syarifah Khadijah, Putra Maulana Sultan Hasanuddin Banten, dan cucu dari Sunan Gunung Jati. Sedangkan ibu Nyai Mardliyah (ibu Kiai Dahlan) adalah adik KH. Abdul Kahar saudagar kaya nan terkenal dari Kawatan Surabaya juga cukup dekat dengan Kiai-Kiai NU.
Perpaduan antara kedua orang tua Kiai Dahlan Achyad yang berbeda latar belakang ini menurut Wasid sangat ideal. Sebab, komitmen keduanya (sebagai agamawan dan saudagar) memastikan dapat menopang satu sama lain. Untuk tidak berlebihan, pernikahan ini mengingatkan pernikahan yang dilakukan oleh Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah (saudagar yang kaya raya). Dari perpaduan inilah, membawa Dahlan kecil mewarisi karakter kedua orang tuanya. Di satu sisi karakter agamawan dari ayahandanya di sisi yang lain karakter seorang saudagar dari ibunya.
Riwayat pendidikan Kiai Dahlan Achyad bermula dari ayahandanya sendiri yakni Kiai Achyad, pemangku Pesaantren Kebondalem. Melalui restu orangtuanya nyantri ke Syaikhona Kholil Kademangan Bangkalan. Kemudian melanjutkan pengembaraan ilmu ke Kiai Mas Bahar Sidogiri Pasuruan. Sayangnya hingga saat ini, masih belum ditemukan data yang akurat apa saja yang dia pelajari di Pesantren Kebondalem. Hanya saja Wasid sedikit menafsirkan bahwa, di pesantren Kebondalem (milik ayahandanya sendiri) Dahlan muda belajar dasar-dasar agama, praktik shalat dan ibadah lainnya. Sedangkan di Pesantren Kademangan Dahlan muda belajar ilmu Nahwu, Fikih dan Sharaf. Sedangkan di Pesantren Sidogiri Dahlan muda belajar materi tafsir, hadits dan hisab.

Ada tiga faktor mengapa Dahlan muda tidak cukup hanya mengenyam pendidikan agama di Pesantren Kebondalem. Pertama, Syaikhona Kholil (pemangku Pesantren Kademangan) dan Kiai Mas Bahar (pemangku Pesantren Sidogiri) bersambung garis keturunan pada Sayyid Sulaiman yang merupakan leluhur dari Kiai Dahlan. Kedua, Dahlan muda lebih berniat tabarrukan, karena Syaikhona Kholil dan Kiai Mas Bahar dikenal sebagai ‘ulama’ yang ‘alim dan zuhud. Ketiga, Dahlan muda ingin menyambung rantai silsilah sanad keilmuan pesantren dengan ‘ulama’-‘ulama’ Sunni terkemuka di Makkah Al-Mukarramah. Karena bagaimana pun juga banyak di akui oleh pegiat kajian sejarah bahwa Syaikhona Kholil adalah penyambung genealogis silsilah keilmuan dari Makkah ke Nusantara. Di tempat inilah Kiai Dahlan muda bertemu dengan ‘ulama’-‘ulama’ yang teguh memegang ajaran aswaja nan nasionalis yakni Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah hingga nantinya bersama mereka mendirikan Taswirul Afkar dan Nahdlatul ‘Ulama’.

Setelah lama ia mengembara mencari ilmu dari pesantren ke pesantren, Kiai Dahlan kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan estafet pesantren milik ayahandanya. Sayangnya hingga kini tidak ditemukan data yang valid kapan Kiai Dahlan mulai menjadi pengasuh pesantren Kebondalem secara resmi. Ketika memangku pesantren Kebondalem, ia menuliskan karya Tadzkirat al-Naf’ah dicetak tahun 1353 H atau bertepatan tahun 1935 M. Karya ini membahas bab sholat khususnya shalat Jumat. Sebenarnya penulisan kitab ini dilatar belakangi oleh kondisi keberagamaan Kota Surabaya yang sedang diintervensi oleh Wahabi. Sebab era 1930 Kota Surabaya adalah salah satu dari kota yang menjadi tempat bertarungnya beragam ideologi (keagamaan). Dengan hadirnya ktiab ini seolah Kiai Dahlan ingin berpartisipasi menggerus ideologi yang menyimpang tersebut dan kembali meluruskannya. Hanya saja kitab ini berisi satu topik pembahasan yakni shalat Jumat.

Pada tahun 1913 – 1932 M, Kiai Dahlan menjadi pembimbing haji. Pada tahun tersebut umur Kiai Dahlan cukup muda yakni antara 27 sampai dengan 47 tahun. Periode umur yang produktif tersebut dia gunakan dengan optimal. Buktinya kondisi Indonesia saat itu yang masih dalam masa perjuangan (kemerdekaan), Kiai Dahlan mampu memperoleh kesuksesan pada dua urusan. Pertama urusan agama, dia berperan sebagai tokoh masyarakat pemangku Pesantren Kebondalem dan pembimbing haji. Tatkala di tanah haram inilah Kiai Dahlan banyak bersilaturrahmi dan membaca beberapa kitab dengan rekan-rekannya yang ada disana. Kedua, urusan dunia yakni sebagai seorang saudagar. Sayangnya hingga saat ini tidak ada catatan sejarah yang menuliskan perkakas apa saja yang ia dagangkan.
Sebagai pembimbing haji tentunya Kiai Dahlan tahu betul keterpurukan bangsa ini yang saat itu dalam cengkraman kolonialisme. Lebih-lebih kerasnya ideologi trasnasionalis radikal (Wahabi) semakin menjadikan Kiai Dahlan prihatin dan ingin segera membentengi ideologi anak bangsa ini melalui pendidikan. Alhasil, pada tahun 1914 Kiai Wahab mempunyai gagasan untuk mendirikan studi club yang hendak dijadikan sebagai media diskusi perkembangan islam Ahlussunnah wa al-Jama’ah, gagasan ini ia ungkapkan pada Kiai Dahlan. Dengan antusias, Kiai Dahlan menyambut ide cemerlang tersebut. Dari ide tersebut terlahirlah Taswirul Afkar. Perkumpulan ini menjadi titik awal perjuangan ‘ulama’-‘ulama’ mengawal ideologi aswaja di bumi Nusantara ini dari gerakan transnasionalis radikal (Wahabi). Dikatakan titik awal karena setelah perkumpulan ini terbentuk, muncullah gerakan selanjutnya.

Pada tahun 1926 M berdirilah organisasi secara resmi untuk benar-benar menghalau Wahabi, yakni Nahdlatul Ulama’. Organisasi akbar ini dipimpin oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) sedangkan Kiai Dahlan sebagai wakil ketua dan Kiai Wahab sebagai sekretaris (Katib Awal). Kedudukan Kiai Dahlan sebagai orang nomor dua di NU kala itu cukup berpengaruh. Dua tahun kemudian, digagas sebuah misi ke tanah haram untuk menghadap raja Abdul Aziz bin Sa’ud agar tidak lagi menerapkan egoisme dalam bermadzhab. Misi tersebut dikenal dengan nama Komite Hijaz. Melalui misi tersebut hingga kini keleluasaan bermadzhab tetap berlangsung di tanah haram.

Kepeduliannya terhadap ideologi semakin terlihat saat Kiai Dahlan mendapat amanah sebagai Ketua MIAI pada tahun 1937. Di Majelis ini peran Kiai Dahlan begitu besar. Kiai Dahlan sebagai tuan rumah saat dirintisnya MIAI pada tanggal 12-15 Rajab 1358 H atau 18-21 September 1937 M. Dimasa senjanya saat Kiai Dahlan berumur 65, dia tetap berkomitmen untuk agamanya. Tahun 1956-1959, Kiai Dahlan tercatat sebagai ketua Pengadilan Agama di Gresik. Sayangnya hingga saat ini masih belum ditemukan apa saja perannya saat menjabat sebagai ketua Pengadilan Agama di Gresik.
Perjalanan kehidupan Kiai Dahlan meninggalkan jejak yang patut untuk direfleksikan. Kiai Dahlan adalah sosok ‘ulama’ yang konsisten berjuang didunia pendidikan. Hal ini ditunjukkan dari posisinya sebagai pemangku Pesantren Kebondalem juga sebagai pendiri perkumpulan Tasiwrul Afkar. Selain sebagai sosok yang konsisten berjuang didunia pendidikan, Kiai Dahlan begitu teguh membentengi bangsa ini dari gerakan Wahabi. Hal ini dibuktikan dengan posisinya sebagai Wakil Rais Akbar NU pada periode pertama. Usaha selanjutnya selain menjadi pejabat elite NU periode pertama untuk menghalau gerakan ini, Kiai Dahlan menulis satu kitab yang diberi anam Tadzkiratun Naf’ah. Meskipun berbeda ideology bahkan cenderung bertentangan, Kiai Dahlan tidak serta-merta menunjukkan respon yang radikal atau menggunakan tindakan kekerasan agar Wahabi tidak leluasa menyebarkan pahamnya. Usaha menulis kitab ini dinilai lebih tentantram daripada menggunakan tindak kekerasan.

Perjuangan Kiai Dahlan Achyad di Taswirul Afkar
Kiai Dahlan hidup pada masa-masa kolonialisme. Cengkraman kolonialisme ini menancap pada semua aspek kehhidupan bangsa, tak terkecuali pendidikan. Pemerintah kolonial benar-benar ingin rakyat ini tidak berpendidikan. Minat rakyat untuk mengenayam pendidikan layak pada saat itu benar-benar ditekan. Hingga terpaksa mereka tinggal di rumah membantu orang tua atau menjadi buruh tani. Bagi anak yang berada (kaya), ia meninggalkan rumah pergi ke pesantren untuk mengaji. Di sinilah mereka mencari ilmu karena harapan bersekolah. Mereka memilih ini karena keterpaksaan, sekolah yang dibuat oleh pemerintah kolonial hanya untuk kalangan tertentu.
Memang demikian, apa boleh buat, bukan kepandaian berhitung atau menulis yang mereka dapat melainkan keluhuran akhlak, budi pekerti dan kecakapan ilmu agama yang mereka peroleh di pesantren. Sayangnya, meski berbulan-bulan, bertahun-tahun mereka tidak akan memperoleh gelar apa-apa yang bisa menjamin penghasilan yang lumayan. Kendati demikian, mereka lulusan pesantren dalam lingkungan masyarakat tidak diragukan lagi pengabdiannya. Sampai pada akhirnya memang, tidak bisa dipungkiri pesantren juga ikut berkontribusi membina mental (spiritual) bangsa ini pada masa-masa sulit tersebut.

Surabaya yang sudah menjadi kota kosmopolit saat itu cepat sekali menyerap perubahan. Berdirinya Taswirul Afkar sebenarnya ingin mengakomodasi dikotomi pendidikan tersebut. Meskipun pada mulanya, Taswirul Afkar hanya sebagai kelompok diskusi ‘ulama’ ahlussunnah wal al-Jama’ah. Namun pada pertengahan perjalanannya di bawah kepemimpinan Kiai Dahlan, Taswirul Afkar berkembang menjadi Madrasah (lembaga formal) dan memiliki ijin resmi dari pemerintah colonial.

Bila diperinci perjuangan Kiai Dahlan dalam mengelola Taswirul Afkar terdiri dari beberapa fase. Fase yang pertama, Taswirul Afkar berupa kelompok diskusi. Pada fase ini Taswirul Afkar berdiri atas prakarsa dari tiga tokoh sentral di Surabaya yakni KH. Wahab Casbullah, KH. Dahlan Achyad, dan KH. Mas Mansyur pada tahun 1914. Taswirul Afkar saat itu menjadi wadah silaturrahmi ‘ulama’ Ahlussunnah wa al-Jama’ah untuk membangkitkan ghirah nasionalisme. Salah satu langkah konkrit dari kelompok diskusi ini adalah dibentuknya kelompok kerja yang di beri nama Nahdlatul Wathan. Sesuai dengan namanya, seperti gaung bersambut Nahdlatul Wathan mendapat sambutan hangat dari sejumlah tokoh masyarakat.
Fase kedua, Taswirul Afkar berupa Madrasah interdependen. Pada tahun 1918, Taswirul Afkar menjadi perhimpunan yang resmi bergerak di bidang pendidikan, namun berubah nama menjadi Madrasah Islamiyah Surya Sumirat Afdeling Taswirul Afkar.

Artinya pada tahun tersebut Taswirul Afkar bergabung dan menjadi cabang dari perkumpulan Surya Sumirat. Bukan apa, namun ini adalah siasat dari Kiai Dahlan dan kawan-kawan agar Taswirul Afkar mendapat ijin operasional dari pemerintah colonial. Pada fase kedua inilah Kiai Dahlan secara resmi menjadi pengelola dengan ditemani oleh Mangun, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Mas Mansyur.
Pada fase kedua berlangsung pergolakan pemikiran antara KH. Wahab Chasbullah, dengan KH. Mas Mansyur. Perbedebatan keduanya berujung pada arah gerakan. KH. Wahab Chasbullah cenderung tawaduk dan mempertahankan ‘ulama’ salaf. Sedangkan KH. Mas Mansyur lebih konservatif pada gerakan yang diklaim pembaharuan oleh Muhammadiyah. Hingga pada tahun 1922 KH. Mas Mansyur meninggalkan Taswirul Afkar dan masuk pada Muhammadiyah. Dengan keluarnya KH. Mas Mansyur dari Taswirul Afkar, maka semakin jelaslah arah gerak pada pedoman perkumpulan ini memang benar-benar berkomitmen memegang teguh ajaran-ajaran ‘ulama’ salaf.

Ternyata bila ditelisik lebih jauh perdebatan tersebut bukan hanya antara dua tokoh tersebut namun meluas hingga ke tanah haram. Menanggapi isu tersebut Taswirul Afkar yang dikelola oleh Kiai Dahlan mengutus Kiai Wahab sebagai delegasi Kongres Al-Islam di Cirebon tanggal 31 Oktober – 2 Nopember 1922. Akhirnya pada tahun 1924 puncak dari komitmen Taswirul Afkar untuk mengawal ideologi Ahlussunnah wa al-Jama’ah membentuk Komite Hijaz. Sebagai utusannya adalah Kiai Wahab dan Syaikh Ghanaim al-Mishri. Bertolah dari Komite Hijaz kemudian berdiri HBNO atau yang sekarang dikenal sebagai Nahdlatul Ulama’.

Kegesitan Kiai Wahab dalam berorganisasi dan keahliannya melobi menjadikannya semakin sibuk sampai memaksanya tidak bisa berkecimpung dalam Taswirul Afkar terutama sekitar tahun 1929-1935. Alhasil Kiai Dahlan lah yang menjadi tokoh sentral pengelola Taswirul Afkar. Kesibukan Kiai Wahab pada ruang lingkup yang lebih besar mengantarkan Taswirul Afkar menuju fase ketiga. Tidak seperti fase kedua yang mana Taswirul Afkar masih mencari induk organisasi yang telah mendapatkan persetuan dari pemerintah colonial. Pada fase ketiga ini peran Kiai Dahlan lebih besar, disamping Kiai Wahab sudah tidak aktif lagi di Madrasah ini (Taswirul Afkar), Kiai Dahlan menjadi tokoh sentral Madrasah ini Perjuangan yang ditorehkan Kiai Dahlan untuk Taswirul Afkar pada fase ketiga adalah 1) membantu memperbanyak jumlah siswa, 2) membuka Syirkatul Amaliyah pada tahun 1918, 3) perizinan kepada Pemerintah Belanda tahun 1919, 4) membeli rumah di Ampel Suci, 5) membebaskan pajak Surya Sumirat Afdeling Taswirul Afkar sebagai lembaga yang diwakafkan, 6) membagi tingkat kelas, 7) membuat kurikulum Madrasah.

Menilik dari perjuangan yang ditorehkan Kiai Dahlan untuk Taswirul Afkar pada fase ketiga terdapat dua garis besar. Pertama perjuangan untuk membenahi permasalahan internal lembaga. Kedua perjuangan agar lembaga (Taswirul Afkar) bisa berdiri sendiri dibidang ekonomi. Dua perjuangan tersebut menunjukkan bahwa Kiai Dahlan benar-benar berkomitmen untuk terus mengawal Taswirul Afkar dan generasi bangsa ini agar benar-benar mengenyam pendidikan dengan layak.

Fase keempat adalah perjuangan menuju independensi. Usaha-usaha yang dilakukan oleh Kiai Dahlan untuk mengantarkan Taswirul Afkar menuju independesi adalah 1) pelepasan nama Surya Sumirat pada tahun 1930, 2) membentuk NU cabang Taswirul Afkar, 3) membuat akta perjanjian wakaf tahun 1933, 4) mendirikan tiga bentuk madrasah, dan 5) meluaskan ruang gerak dakwah Taswirul Afkar.
Perjuangan Kiai Dahlan pada fase keempat ini mengantarkan Taswirul Afkar menuju independensi. Kemandirian suatu lembaga menjadi unsur mutlak agar suatu lembaga dapat berjalan dengan semestinya. Seperti halnya Taswirul Afkar yang mulanya didirikan untuk mengawal ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah serta agar rakyat Indonesia dapat mengenyam pendidikan secara layak, tidak boleh tidak Taswirul Afkar berdiri pada kakinya sendiri. Semula Taswirul Afkar yang menginduk pada Surya Sumirat hanya siasat supaya Pemerintah colonial tidak menganggap Taswirul Afkar sebagai sekolah liar. Alhasil dalam perjalanannya siasat tersebut berhasil. Pemerintah Belanda memberikan kelonggaran terhadap sekolah liar pada tahun 1923-1929 hanya memberitahukan tujuan mendirikann sekolah liar secara tertulis kepada kelapa daerah setempat. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kiai Dahlan dan kawan-kawan, akhirnya pada tahun 1930 Taswirul Afkar resmi menjadi Madrasah yang independen tidak menginduk pada organisasi Surya Sumirat.

Perjuangan memperoleh independensi oleh Kiai Dahlan masih belum dianggap cukup untuk menjadikan Taswirul Afkar benar-benar mendidik rakyat dari berbagai kalangan. Kiai Dahlan dan kawan-kawan mengembangkan Madrasah menjadi tiga bentuk. Yakni: Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Al-Aitam dan Ibn Masakin. Dua bentuk madrasah yang sangat pro terhadap kaum mustad’afin adalah Madrasah Al-Aitam (untuk anak yatim) dan Ibn Masakin (untuk masyarakat miskin). Dua madrasah ini dikatakan pro terhadap kaum mustad’afin karena diselenggarakan dengan cuma-cuma. Murid-murid yang belajar pada dua madrasah itu tidak dipungut biaya, bahkan diberikan bantuan untuk membeli buku dan alat tulis. Penyelenggaraan dua madrasah tersebut yang gratis bahkan muridnya juga mendapatkan bantuan, bukan bukan sekedar ikhtiar yang biasa. Namun sekali lagi, jejak perjuangan tersebut memang menunjukkan tekad Kiai Dahlan ingin mencerdaskan rakyat melalui pendidikan.

Perkembangan STAI Taswirul Afkar
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Taswirul Afkar Surabaya berada di naungan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Taswirul Afkar Surabaya. Lembaga Pendidikan Taswirul Afkar berdiri pada tahun 1918 M. Mula-mula berbentuk perkumpulan diskusi yang diprakarsai oleh almarhum KH. Abd. Wahab Hasbullah, KH. Achmad Dahlan Achjat dan KH. Mas Mansyur yang pada waktu itu merupakan cabang dari perkumpulan Suryo Sumirat dalam rangka mempermudah mendapatkan ijin dari pemerintah Belanda. Kemudian menjadi madrasah yang berkedudukan di wilayah Ampel Suci Surabaya. Pada tahun 1952 sehubungan dengan meningkatnya jumlah murid, maka pindah di Jalan Pegirian 238 Surabaya sampai saat ini.

Adapun yang pernah menjadi pimpinan Madrasah Islamiyah Taswirul Afkar ini antara lain:
1. KH. Muhammad Hasbullah
2. KH. Abdul Hamid Faqih
3. KH. Noer
4. KH. Hamid Dyahid
5. KH. Mujri Dachlan
6. KH. Zaki Goefron
Adapun tingkatan atau jenis sekolah yang ada di bawah naungan YPI Taswirul Afkar Surabaya adalah:
1. Madrasah Ibtidaiyah Putra berdiri tahun 1918 M.
2. Madrasah Ibtidaiyah Putri berdiri tahun 1952 M.
3. Sekolah Taman Kanak-Kanak berdiri tahun 1959 M.
4. Madrasah Mu’allimin/Mu’allimat (PGA) berdiri tahun 1962 M.
5. STAI Taswirul Afkar berdiri tahun 2001 M.

Mulai tahun 1992 telah terjadi kesepakatan bersama antara pengurus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Taruna Rungkut Surabaya dan YPI Taswirul Afkar Surabaya yang berkeinginan mengembangkan perguruan STIT Taruna di wilayah Surabaya Utara yang bertempat di Yayasan Pendidikan Islam Taswirul Afkar. Adapun tokoh yang hadir dalam musyawarah tersebut adalah:
1. Drs. H.M. Ischaq Iskandar, SH (STIT Taruna)
2. Drs. H. Muadib (STIT Taruna)
3. H. Soerkalam (YPI Taswirul Afkar)
4. Drs. Moh. Rifa’I (YPI Taswirul Afkar)
5. Drs. H.M. Yatimun (Koordinator)

Dalam kurun waktu tahun 1992 sampai tahun 2000 telah mengikuti wisuda yang diselenggarakan di kampus pusat Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Taruna yang berada di jalan Kali Rungkut Mejoyo 1 dengan jumlah mahasiswa 79 orang, dengan rincian:
1. Angkatan I : Laki-laki 10 orang, Perempuan 11 orang
2. Angkatan II : Laki-laki 16 orang, Perempuan 11 orang
3. Angkatan III : Laki-laki 10 orang, Perempuan 21 orang
Seiring berkembangnya mahasiswa yang mengikuti perkuliahan di YPI Taswirul Afkar (pada saat itu menjadi kelas jauh STIT Taruna Surabaya), masyarakat yang berada di wilayah Surabaya Utara menyampaikan aspirasinya kepada pengelola YPI Taswirul Afkar untuk mendirikan perguruan tinggi sendiri. YPI Taswirul Afkar berinisiatif merespon tuntutan masyarakat tersebut, sehingga para pengelola yayasan melakukan musyawarah dan koordinasi untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pendirian perguruan tinggi baru. Alhamdulillah dengan semangat dan dedikasi yang tinggi serta dukungan para dosen dan bantuan dari berbagai pihak khususnya restu dari seluruh sesepuh dan pengurus YPI Taswirul Afkar. Akhirnya dengan izin dan ridho Allah SWT pada hari Sabtu, 27 Juli 2002 pendirian STAI Taswirul Afkar diresmikan oleh Bapak H. Imam Utomo (Gubernur Jawa Timur pada waktu itu).

Yayasan Pendidikan Islam Taswirul Afkar Surabaya melalui STAI Taswirul Afkar terpanggil untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, menyiapkan generasi yang sholeh, bertakwa kepada Allah SWT, berintegritas moral yang luhur dan mencetak sarjana profesional yang memiliki kemampuan konseptual dan praktis di bidang Pendidikan Agama Islam yang berhaluan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Sekolah Tinggi Agama Islam Taswirul Afkar Surabaya memiliki gedung berlantai dua, dengan beberapa pembagian ruang untuk pelayanan administrasi dan akademik, pelayanan mahasiswa, ruang pimpinan, ruang dosen, ruang perkuliahan, perpustakaan, ruang laboratorium, mushalla, serta kamar mandi dan koperasi.

Back to top button
Close
Close