Kolom Dosen

Resep Kiai Asep

Oleh: Muzamil, M.Th.I

Bertempat di Gedung Kesenian Cak Durasim, tanggal 9 september, acara rapat senat terbuka STAI Taswirul Afkar Surabaya dilaksanakan.

Orasi ilmiah dalam acara tersebut diisi oleh Dr. K.H Asep Syaifuddin, pengasuh pondok pesantren Amanatul Ummah yang berlokasi di Surabaya dan Pacet Mojokerto. Sebelum menyampaikan orasi, beliau bercerita tentang anggapan atau perasangka masyarakat mojokerto tentang kesulitan pengembangan sebuah lembaga di Mojokerto karena tertutupi oleh kedigdayaan kerajaan Majapahit pada zaman dahulu kala.

Resep yang disampaikan ini adalah jawaban dari asumsi masyarakat Mojokerto tersebut. Dalam orasinya, beliau meyampaikan resep yang berbasis pada pengalaman dalam mengembangkan lembaga pendidikannya.

Ada empat hal yang disampaikan untuk mengembangkan sebuah lembaga. Pertama, membuka akses intelektual. Dalam konteks membangun atau mengembangkan sebuah lembaga, ilmu adalah kuncinya. Tanpa ilmu, tidak mungkin sebuah lembaga bisa bangkit. Akses intelektual bagi Dosen, pimpinan, karyawan dan mahasiswa harus dibuka. Dosen yang masih S2 harus didorong untuk melanjutkan studinya. Dosen yang memiliki tingkat intelektual tinggi akan membuka peluang berkembangnya lembaga. Begitu juga keryawan dan mahasiswa. Jika orang-orang yang terkait dengan lembaga itu memiliki intelektual tinggi maka lembaga tersebut akan membuka pori-pori keberhasilannya.

Kedua, membuka akses sosial dengan masyarakat sekitar. Membangun sebuah lembaga yang besar tidak mungkin terlaksana jika lembaga tersebut tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar. Beliau mencontohkan, bahwa masyarakat di sekitar lembaganya di Pacet sekarang sudah mulai memiliki penghasilan yang membaik sebagai akibat dari kedatangan para santri. Masyarakat sekitar banyak yang membuka usaha laundry untuk para santri. Konsekwensi logisnya adalah penambahan dan perbaikan ekonomi masyarakat semakin tampak.

Rumah-rumah mereka sudah banyak direnovasi dari yang semula bambu dan kayu sekarang menjadi rumah gedung. Disamping itu, masyarakat sekitar juga dapat mengakses air bersih, usaha milik pondok. Dengan adanya pondok pesantren, masyarat sekitar merasakan manfaatnya. Bahkan mereka mengatakan bahwa pengasuh pondok Amanatul Ummah itu masih keturunan Raja Maja Pahit.

Ketiga, membuka akses finansial. Bagaimanapun juga, sebuah lembaga membutuhkan suntikan dana untuk mengembangkannya. Dalam hal ini, beliau menyarakan agar lembaga itu memiliki usaha untuk membuka akses finansial disamping dari donatur dan infak siswa. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah doa. Beliau mengajarkan doa untuk membuka akses finansial ini. Begini doa yang diajarkan; Ya Allah berilah kami rizqi yang halal dan banyak. Rizqi yang luas dan datang dari berbagai penjuru.

Dalam konteks ini, beliau juga berbagi cerita bahwa setiap hari beliau hanya tidur 1-2 jam setiap malam. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mendekatkan diri kepada dzat pemilik alam semesta.

Keempt, membuka akses jaringan dengan lembaga-lembaga lain dan instansi terkait. Jalinan silaturrahim dengan lembaga dan instansi tersebut memiliki efek yang luar biasa. Beliau mencontohkan bagaimana perguruan tinggi Amanatul Ummah bisa membuka perkuliahan pada level strata 2 konsentrasi PAI pada waktu belum memiliki lulusan S 1. Padahal, syarat untuk membuka S2 itu harus memiliki lulusan S1 dan Pada waktu itu, pembukaan jurusan PAI sedang dimoratorium oleh pemerintah.

Inilah manfaat akses. Bukalah komunikasi dan silaturrahim dengan lembaga dan instansi terkait, insyaAllah kita akan merasakan manfaatnya.

Semoga Taswirul Afkar yang tak akan pernah terhapus oleh sejarah karena memiliki kontribusi besar untuk bangsa ini dan segenap lembaga yang ada di bawah naungannya dapat segera merapatkan barisan untuk menata ulang kelembagaannya untuk menggapai hari esok yang lebih baik.

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close