Kolom Dosen

Metode ‘Dating’ sebagai Metode Kritik Hadis : Catatan atas Tawaran Prof. Dr. Kamaruddin Amin

Sebuah pemikiran tidak dapat berdiri sndiri. Kemunculannya pasti didahului oleh pemikiran yang lain. Dalam dunia intelektual, sudah menjadi sebuah keniscayaan adanya tesis-anti tesis dan kemudian muncullah anti tesis. Itu namanya dinamis dan hal itu wajar. Namun menurut pengamatan penulis tentang fenomena para sarjana yang berguru kepada para orientalis yang katanya penuh dengan kekritisan, banyak diantara mereka yang membeo dan mengimpor pemikiran para orientalis secara metah-mentah sehingga yang terjadi adalah pengulangan murni dan tidak ada pembacaan ulang terhadap ajaran para orientalis.

Diantara murid Orientalis yang cukup terkenal di Indonesia adalah Kamaruddin Amin. Salah satu pernyataannya dalam buku tersebut adalah “Saya berpendapat bahwa setiap hadis, di mana pun ia dimuat dan setinggi apa pun ia diapresiasi oleh para sarjana, harus diteliti sebelum diberikan penilaian ilmiah apa pun terhadap ketepercayaannya,” tulis Amin (hal. 190).” Artinya, kita dihimbau untuk meneliti ulang hadis-hadis yang ada dengan menggunakan metode dating yang ia peroleh dari para orientalis. Dalam tulisan singkat ini, ada tiga poin yang perlu dipertimbangkan dalam memahami pemikiran Dr. Kamaruddin Amin terkait dengan metodologi kritik hadis.

Memahami Kronologis Kajian Orientalis Seputar Hadis
Pertengahan Abad ke 19, Alois Sprenger, misionaris Asal Jerman menyatakan bahwa hadis adalah kumpulan cerita anekdot. William Muir, orientalis asal Inggris mengamini pendapat Sprenger dan menambahkan bahwa nama Nabi Muhammad sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan.

Ignaz Goldziher, seorang Yahudi kelahiran Hungaria menyatakan bahwa sebagian besar hadis – untuk tidak mengtakan seluruhnya – tidak dapat dijamin keasliannya. pendapatnya tersebut kemudian disetujui oleh rekannya David Samuel Margoliouth dengan mengajukan dua alasan 1) tidak adanya bukti yang menunjukkan bahwa hadis telah dicatat sejak zaman Nabi, 2) Lemahnya ingatan para rawi. Pendapat tersebut telah disanggah oleh Syaikh Mustafa as-Siba’I, Muhammad Abu Shuhbah, dan Abdul Ghani Abdul Khaliq.

Tidak mau kalah dengan rekan-rekan orientalisnya yang senang bespekulasi dengan menagtasnamakan kajian ilmiah, Josef Horovitz menyatakan bahwa system sanad dibuat dan diperkenalkan pada akhir abad pertama hijriah. Alfred Guillaume mengamini sahabatnya seranya mengatakan bahwa sangat sulit mempercai literatur hadis secara keseluruhan sebagai rekaman otentik dari semua perkataan dan perbuatan Nabi.

Inti dari pendapat mereka adalah tuntutan adanya data historis yang dapat memastikan otentisitas hadis.
Pernyataan-pernyataan para orientalis tersebut sudah dibantah dengan meyakinkan oleh Muhammad Hamidullah dalam bukunya Aqdam ta’lif fil hadis al Nabawi, Nabila Abbot dengan karyanya Quranic Commentary and tradition, dan Muhammad Mustafa al Azami, Studies in early hadith literature.

Semua penulis tersebut berkesimpulan bahwa terdapat bukti-bukti konkret yang menunjukkan bahwa pencatatan dan penulisan hadis sudah terjadi pada zaman Nabi Muhammad, SAW. kemudian si Joseph Schact, orientalis Jerman keturunan Yahudi mengulang kembali gugatan yang disampaikan oleh rekan-rekan sesama orientalisnya dengan menyatakan bahwa tidak ada hadis yang benar-benar asli dari Nabi. Patricia Crone dan Juinboll sependapat dengan Schact dan menambahkan bahwa penaggalan atau penetuan kapan persisnya suatu hadis muncul bukanlah perkara mudah.

Untuk mematahkan pendapat schact tersebut, tampilah para ulama yang kompeten, Muhammad Abu Zahrah tahun 1968 dalam artikelnya yang berjudul an analytical Study o Dr. Schact’s illusions, Zafar Ishaq Ansari dalam tulisannya the authenticity of traditions – Acritique of Joseph Schacht’s argument e silentio..

Disamping para pakar muslim yang tampil untuk menggugat pendapat schact tersebut, Harald Motzki, orientalis yang cukup cermat dalam melihat pendapat kawannya tersebut. Ia menyatakan bahwa kecil sekali kemungkinan adanya pemalsuan dalam periwyatan hadis karena umat Islam mempelajari al Quran dan hadis sejak masa awal Islam. Ia kemudian menyarankan untuk membalik tesis schact yang menyatakan bahwa semua hadis itu tidak otentik hingga terbukti sebaliknya dengan menyatakan bahwa semua hadis itu otentik, kecuali jika terbukti tidak.

Mencermati Logika Orientalis
Kesimpulan para orientalis dalam kajian hadis ini rata-rata berdasarkan argumentum e silentio, yakni alasan ketiadaan bukti. Kesalahan schact dan para muridnya terletak pada anggapannya bahwa ketidak mampuan menemukan bukti yang menjadi pendukung hipotesanya belum tentu bukti itu tidak ada. bagaimana mungkin muncul logika seperti itu, padahal kita adalah manusia yang sangat terbatas dalam segala hal. Apa yang terjadi di belakang tembok rumah kita saja, kita tidak bisa tahu dengan pasti apalagi kajian hadis yang sangat kompleks dan melewati ruang dan waktu yang sangat panjang. Untuk menangkap kebenaran informasi yang disandarkan kepada Nabi tersebut, para ulama dengan ilmu mustalah hadis yang sudah teruji akurasinya dari generasi ke generasi dapat menemukan kebenaran tersebut sehingga muncullah berbagai kitab-kitab hadis.

Secara epistemologis, secara umum dapat dikatakan bahwa sikap orientalis dan para pengikutnya dari awal hingga akhir penelitiannya adalah skeptic. Mereka memulai dari keraguan dan berakhir dengan keraguan pula. Meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Akibatnya, meskipun bukti-bukti yang ditemukan menegasikan hipotesanya, tetap saja mereka akan menolaknya, karena sesungguhnya yang mereka cari bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Kalau dalam ajaran Nabi, kita diperintah untuk meninggalkan keragu-raguan menuju keyakinan.

Tags
Show More

Muzammil Hasan

Cendikiawan Muslim kelahiran Probolonggo ini adalah Wakil Ketua I Bidang Akademik STAI Taswirul Afkar dan pemangku kajian rutin Tafsir al Qur’an di Masjid Subulussalam Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close