Kolom Dosen

Islam Klasik dan Kristen Barat

Pembaca yang akrab dengan sejarah abad pertengahan universitas dan akademisi hampir tidak dapat melihat beberapa kesamaan yang signifikan antara sistem pendidikan dalam agama Islam dan agama Kristen Barat. Kesamaan ini dapat dilihat pada contoh-contoh tertentu di institusi, metode pengajaran, di tempat tugas, dan juga fenomena yang lebih umum, seperti menonjolnya dan peresapan studi hukum, penurunan dan subordinasi seni sastra yang terjadi dan penobatan puncak Abad Pertengahan: metode skolastik dalam hukum dan teologi, dengan pertanyaan, perselisihan dan laporan.

Dalam bab ini, pengalaman Kristen Barat akan dibandingkan dengan Islam Timur dan Barat, dengan harapan bahwa pemahaman dari kedua pengalaman dapat diperoleh dalam prosesnya. Perbandingannya akan dibatasi pada area pengalaman Islam terdahulu cenderung menjelaskan perkembangan selanjutnya, dan pengalaman orang Kristen, yang lebih dikenal karena terdokumentasi dan dipelajari dengan lebih baik, hal ini  akan membantu fokus masalah yang kurang  dokumentasi atau referensi yang ada di luar jangkauan studi.

  1. UNIVERSITAS SEBAGAI KORPORASI

Universitas adalah organisasi sosial yang berkembang di Barat Kristen pada paruh kedua, secara kelembagaan tidak berhubungan atau tidak berutang kepada Islam. Islam tidak ada hubungan dengan universitas sebagai korporasi. Berdasarkan konsep hukum kepribadian, korporasi merupakan abstraksi yang dianugerahi hak dan tanggung jawab hukum. Hukum Islam mengakui individu  secara fisik memiliki legalitas hukum atau  kepribadian yang legal.

Universitas adalah produk Kristen Barat yang berkembang pada abad keduabelas, yang dalam bentuk pengorganisasiannya  mendapat hak istimewa dan perlindungan dari Paus dan Raja. Pemberian hak istimewa dan perlindungan disebabkan karena “situasi ganjil”  yakni  para ilmuwan jauh dari rumah, mereka merasa diri mereka seperti ‘orang asing’ di kota yang penduduk setempatnya merupakan ‘pribumi’. Konsep kewarganegaraan ini juga asing bagi hukum Islam: semua Muslim setara di depan hukum di dunia islam manapun dia berada. Pelajar, ilmuwan dan profesor muslim melakukan perjalanan di dunia Muslim yang jauh dan luas, dari timur ke barat, sebagai ‘pribumi, tanpa memerlukan perlindungan atau hak istimewa tertentu.

Universitas adalah produk baru, yang sepenuhnya terpisah dari akademi Yunani di Athena dan Alexandria, dari katedral Kristen dan sekolah-sekolah biara, dan hal tersebur benar-benar asing dalam pengalaman islam, bagaimanapun begitulah persoalannya terhadap akademi.

 

  1. AKADEMI SEBAGAI LEMBAGA SOSIAL ATAU KEPERCAYAAN AMAL

Universitas tumbuh dan berkembang antara tahun 1100 dan 1200 diakibatkan oleh kebangkitan ilmu pengetahuan, ditandai dengan masuknya pengetahuan baru ke Eropa Barat, melalui Italia dan Sisilia, dan terutama melalui ilmuwan Arab di Spanyol. Masuknya pengetahuan baru ini telah dijelaskan oleh sarjana barat dan telah dirinci dalam daftar buku-buku yang sebagian besar berhubungan dengan filsafat dan sains yang telah diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin, sehingga telah disepakati secara umum bahwa pembelajaran bahasa Arab telah memberikan kontribusinya terhadap ‘kebangkitan besar pembelajaran’.

Di sisi lain, tidak banyak yang mengatakan tentang kontribusi orang Arab terhadap institusi pembelajaran Kristen Barat atau terhadap metode pembelajaran yang antusiasnya juga tidak banyak. Ketika Julian Ribera berpendapat bahwa kemungkinan terdapat banyak tiruan secara sadar “plagiasi” universitas pada abad pertengahan dari sistem pendidikan Arab; dalam koleksinya Disertaciones Y Opusculos, F.M. Powicke, namun salah satu editor terpelajar Rashdall, setelah mendeskripsikan penelitian Ribera, menolak klaim tersebut dengan alasan ‘argumentasi kurang meyakinkan.’Argumentasi Ribera mungkin tidak terlalu meyakinkan; tetapi mereka tidak diberi kesempatan untuk dikutip dalam salah satu ‘Catatan Tambahan’ di akhir sebuah bab; dalam upaya memberitahukan pembaca mengapa alasan argumentasi tersebut tidak meyakinkan.

Jika universitas asing dengan pengalaman Islam, tidak demikian halnya dengan akademi. Akademi sebagai lembaga sosial atau yayasan amal yang baik tentu sangat Islami. Akademi Islam apakah dari masjid atau madrasah, didasarkan pada wakaf Islam atau lembaga amal/Lembaga Sosial yang asas-asasnya berhubungan dan dapat diatasi.

Akademi Latin Barat bermula dari Paris. Akademi yang pertama dikenal didirikan pada tahun 1180 oleh Yayasan ‘dominus Jocius de Londoniis’ yang baru kembali dari Yerusalem untuk berziarah. Yayasan ini atau sebuah domus pauperum kemudian dikenal sebagai Akademi ‘College des Dix-Huit’, yang berarti delapan belas siswa miskin. Awalnya, akademi ini tidak lebih dari ‘hospicium’ yang diberkahi. Istilah college dari bahasa Latin ‘collegiun’ yang menyiratkan suatu penggabungan, penggabungan akademi tidak muncul sampai lebih dari setengah abad kemudian. Sampai saat ini, akademi merupakan suatu institusi sosial atau amal yang sederhana yang berpegang atas sedekah dan berdiri atas dasar argumen, kemudian dikenal sebagai lembaga sosial atau kepercayaan amal (charitabie trust).

Dalam Bab Satu di atas sudah dijelaskan, wakaf Muslim dideskripsikan sebagai suatu lembaga sosial atau kepercayaan amal yang terwujud oleh tindakan sukarela oleh seorang Muslim, tanpa perantara kekuasaan pemerintahan. Pendiri Muslim bertindak secara individu dan secara independen, menyerahkan kekayaan pribadi untuk kemaslahatan publik, diberikan langsung kepada penerima manfaat sendirian, tanpa mediasi dari otoritas pusat atau badan hukum lainnya.

  1. Wakaf dan ‘Pia Causa’ dari Byzantium

Wakaf pada dasarnya memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan ‘pia causa’ atau filantropi yang populer di Byzantium, dan berbeda dengan tindakan amal di Barat Kristen bahwa sumbangan diberikan kepada Gereja untuk didistribusikan kepada fakir miskin. Donasi ini, lebih tepatnya disebut sumbangan sub modo, diperuntukkan untuk orang hukum yang sudah ada sebelumnya. Pertanyaan yang dapat diajukan kemudian, apakah ada atau tidak keberadaannya di Prancis, dan kemudian di Inggris dua tempat yang merupakan asal mula akademi pada abad pertengahan, kepercayaan amal dalam arti wakaf dimana pendirinya bertindak sebagai individu yang menciptakan dasar yang bukan merupakan korporasi-korporasi ataupun donasi untuk korporasi tersebut.

Bersambung…

Tags
Show More

Rangga Sa'adillah

Guru, Dosen, Peneliti, Penulis, dan Pembaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close