Kolom Dosen

Pendidikan Agama Islam dengan Metode Saintifik

Pendidikan Agama Islam dengan Metode Saintifik

Pengembangan kurikulum di Indonesia pada tahun 2013 membawa perubahan paradigma dalam pembelajaran. Melalui kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A tahun 2013, pendekatan saintifik direkomendasikan sebagai standar proses pelaksanaan pembelajaran pada setiap mata pelajaran dan semua jenjang pendidikan.

Kebijakan penerapan pendekatan saintifik diperkuat lagi pada tahun 2016, melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22. Pembelajaran melalui pendekatan saintifik mengajak siswa secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui sintaks mengamati, menanya, mencari data/informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

Melihat perihal tersebut Rangga Sa’adillah Sandhy Atma Putra menjadikannya sebuah topik disertasi dengan judul “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Melalui Pendekatan Saintifik Dalam Membentuk Sikap Spiritual Di Sekolah Menengah Atas Sidoarjo”. Mahasiswa yang juga penerima beasiswa Program 5000 Doktor dan juga dosen di STAI Taswirul Afkar Surabaya ini memfokuskan untuk mendeskripsikan, menganalisa dan menganalisis pengalaman, keyakinan dan makna sikap spiritual guru PAI dalam menjalankan pembelajaran PAI dengan pendekatan saintifik yang ada di beberapa SMA Negeri di Sidoarjo.

Pendekatan saintifik mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan yakni penonjolan pada dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Beberapa hasil penelitan sebelumnya menyatakan perubahan pendekatan pembelajaran di Indonesia (pendekatan saintifik) memang cukup membingungkan para guru takala pengembangan pembelajaran dengan pemberlakukan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) pada tahun 2006 diberlakukan, guru baru saja memahami pembelajaran aktif belum lagi dengan adanya perubahan paradigma pembelajaran pada tahun 2013 melalui pendekatan saintifik sehingga banyak ditemukan ketidaksiapan guru dalam mengimplementasikan.

Meski pendekatan saintifik menuai polemik dari segi filosofis maupun praktis dalam implementasinya pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam, akan tetapi polemik tersebut dapat terjawab secara akademis. Sebab problem utamanya bukan pada pendekatan saintifiknya melainkan pada tataran guru.

Muhaimin dalam penelitiannya pada tahun 2009 berpendapat, ditengah-tengah pesatnya inovasi pendidikan, seringkali guru Pendidikan Agama Islam merasa kebingungan dalam menghadapi. Inovasi sengaja diciptakan oleh pemangku kebijakan sebagai usaha meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam, mirisnya guru-guru lamban memahami sehingga mereka mudah terombang-ambing oleh derasnya arus inovasi.

Dalam disertasinya, Rangga mengutip bahwa Nadlir & Alfiyah pada tahun 2018 meneliti tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam aspek Fiqih melalui pendekatan saintifikvmenyatakan pendekatan saintifik relevan terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, hanya saja guru perlu mempertimbangkan model pendekatan saintifik apa yang digunakan. Pendekatan saintifik terdiri dari tiga model yakni: discovery learning, problem based learning dan proyek based learning. Setiap model memiliki sintaks serta kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Melalui wawancara yang mendalam terhadap enam subyek guru Pendidikan Agama Islam yang ada di Sma Negeri 1 Sidoarjo, SMA Negeri 3 Sidoarjo dan SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Rangga menemukan temuan berupa cluster of meaning berupa pemahaman subyek terhadap pendekatan saintifik dimana pendekatan saintifik yang dipahami oleh subyek menurut versi pemerintah adalah pendekatan saintifik yang harus diaplikasikan berdasarkan 5 tahapan.

Sementara pendekatan saintifik yang berlandaskan pada prinsip-prinsip saintis mengkonstruk pengetahuan adalah prinsip pembelajaran yang berlandas pada pengamatan terhadap objek kajian yang berupa benda-benda atau realitas yang dapat diamati dirasakan dipikirkan melalui panca indera, membangun premis-premis terhadap objek kajian pengamatan, mengembangkan kepada pengalaman-pengalaman empiris kemudian menggunakan prinsip penalaran induktif sebagai penarikan kesimpulan terhadap pengetahuan yang telah dibangun dalam proses pembelajaran, Ungkapnya.

Pemahaman yang berbeda dalam menangkap wujud pendekatan saintifik berimplikasi pada penilaian yang berbeda dari tiap subyek penelitian. Secara umum mereka menilai bahwa pendekatan saintifik perlu diterapkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam akan tetapi tidak sepenuhnya mereka sepakat bahwa pendekatan saintifik bisa diaplikasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam lebih-lebih menggunakan model yang tersintaks, hal ini kembali lagi pada pemahaman guru terhadap wujud pendekatan saintifik.

Model Kuasi Discovery, dan Problem Based Learning

Rangga menuliskan pada hasil penelitiannya bahwa implementasi model discovery dan problem based learning bukan diaplikasikan dalam tataran model akan tetapi pada tataran metode. Metode pembelajaran adalah usaha untuk mewujudkan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata supaya tujuan yang telah disusun tercapai dengan maksimal.

Metode pembelajaran digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dalam pemahaman subyek inti pembelajaran adalah mengajak siswa untuk berpikir itu disebut sebagai pembelajaran inkuiri sementara menjawab permasalahan dengan cara mencari data itu adalah discovery.

Discovery merupakan model pendekatan saintifik yang dominan dilakukan oleh subyek dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Model ini dominan dilakukan karena bagi subyek cukup sederhana bila diimplementasikan. Kemampuan yang dibutuhkan adalah pancingan pertanyaan dan ketekunan subyek dalam membimbing siswa pada proses pembelajaran, sehingga hampir semua aspek Pendidikan Agama Islam yang terdiri Alquran hadis, aqidah akhlak, fiqih, sejarah kebudayaan diajarkan melalui inkuiri, discovery.

Project Based Learning Sebagai Tugas

Seperti pembahasan temuan hasil sebelumnya bahwa model inkuiri, discovery dan problem based learning bukan sebagai model yang tersintaks dan tersusun rapi berdasarkan tahapan-tahapan atau langkah yang telah ditetapkan oleh para ahli. Pembelajaran project based learning yang dilakukan oleh subyek dilakukan pada level pemberian tugas. Sebenarnya pembelajaran project based learning merupakan perluasan dari pembelajaran berbasis masalah.

Inti perbedaan antara problem based learning dengan project based learning adalah bila problem based learning berhenti pada solusi yang diajukan, sementara pembelajaran project based learning bukan hanya berhenti pada solusi melainkan karya nyata sebagai bentuk solusi yang diajukan.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan saintifik diterapkan oleh guru berdasarkan dua faktor yakni pemahaman guru Pendidikan Agama Islam terhadap hakikat pendekatan saintifik dan varian model pendekatan saintifik. Guru memahami bahwa pendekatan saintifik harus melalui lima langkah dan setiap langkahnya harus diwujudkan pada setiap kali pertemuan.

Pemahaman seperti demikian menjadikan kajian pendekatan saintifik dinilai belum maksimal sebagaimana penelitian In’am & Hajar di tahun 2017, Ritonga di tahun 2017 dan Suyanto pada tahun 2018.

Rangga menyimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama melalui pendekatan saintifik dilakukan oleh guru menggunakan model kuasi yakni model discovery, model problem based learning dan model project based learning. Model pendekatan saintifik discovery dan problem based learning bukan diaplikasikan dalam tataran model akan tetapi pada tataran metode.

Model pendekatan saintifik project based learning dilakukan pada level pemberian tugas. Pembelajaran project based learning terkerdilkan menjadi tugas proyek menjadi hal tidak terelakkan karena sebenarnya pembelajaran ini setidaknya melibatkan multidisiplin mata pelajaran sehingga permasalahan yang diangkat memang bermuara dari masyarakat atau lingkungan sekitar dan nantinya akan menghasilkan proyek yang memiliki nilai benefit kepada masyarakat atau lingkungan sementara kurikulum yang berlaku khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam belum menunjang pelaksanaan metode ini.

Secara teknis pelaksanaan project based learning yang pure sukar dilakukan sebab guru sebagai praktisi pengguna pelaksanaan project based learning harus memiliki pemahaman yang pure dan teknik yang menguasai pembelajaran project based learning. (*)

*) Penulis Adalah Rangga Sa’adillah Sandhy Atma Putra, Dosen STAI Taswirul Afkar Surabaya

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close